Dari Ruang Kapolsek ke Ruang Pelayanan: Ketika Humanisme Menjadi Wajah Polisi

Makassar – Sulsel, Senin, 8 Desember 2025 Aula Mapolres Palopo terasa berbeda. Bukan sekadar ruang sosialisasi formal, namun menjadi panggung refleksi tentang makna kepemimpinan dan pengabdian. Biro SDM Polda Sulawesi Selatan menggelar Sosialisasi Bimbingan Teknis dengan satu benang merah kuat, Kapolsek sebagai pemimpin humanis, berintegritas, dan role model bagi jajarannya.
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Ketua Tim Rombongan Polda Sulsel, Kasubbag Kompeten Biro SDM Polda Sulsel Kompol Patinggian didampingi pendamping Paurmutjab Iptu Aswar Alimin, ddalam rangkaian pembagian zona binaan, di mana Sulsel dibagi ke dalam lima zona pembinaan Kapolsek. Turut Hadir dalam kegiatan ini Kapolsek Se Luwu Raya dan Kapolsek Se kab. Tana Toraja dan Kapolsek Se Toraja Utara.
Salah satu potret kepemimpinan yang mencuri perhatian datang dari Kapolsek Ujung Loe, Kabupaten Bulukumba, Iptu Rudi Adri Purwanto.
Beberapa waktu lalu, namanya viral di media sosial. Bukan karena penangkapan atau operasi besar, melainkan video ulang tahunnya dirayakan sederhana oleh warga setempat. Sebuah potret kecil yang justru berbicara besar tentang kepercayaan.
Ironisnya, Iptu Rudi mengaku bukan sosok yang dikenal humanis. Ia berasal dari satuan keras: Reserse Narkoba. Seorang perwira PAG yang baru menjabat Kapolsek Ujung Loe sejak Juli 2025. Namun, medan tugas mengubah cara pandangnya.
Wilayah Ujung Loe bukan wilayah kecil. Terdiri dari 13 desa, dilayani oleh 29 personel, dengan populasi hampir 48 ribu jiwa. Tantangan pertamanya bukan kriminalitas semata, melainkan kondisi Polsek itu sendiri merupakan gedung tua sejak 1993, gelap, rusak, dan ruang pelayanan masyarakat yang jauh dari kata nyaman.

Keputusannya sederhana tapi nyata
ruang Kapolsek dikorbankan untuk menjadi ruang pelayanan publik.
AC diperbaiki, sofa dipasang, suasana dibuat hangat.
“Polisi harus rela kehilangan ruang pribadi demi kenyamanan masyarakat,” ucapnya lirih, namun tegas.
Tak berhenti di situ. Ia menciptakan ruang problem solving, ruang khusus mediasi persoalan desa sebelum berujung penindakan hukum. Banyak konflik pelik yang sebelumnya buntu akhirnya selesai dengan musyawarah di ruangan itu.
Kehadirannya bukan formalitas. Ia ada di pesta warga, di duka masyarakat, bahkan mempersilakan kendaraan dinas Polsek digunakan masyarakat untuk keperluan hajatan, lengkap dengan pendampingan polisi. Air minum dos rutin disumbangkan, khususnya bagi keluarga yang berduka diberikan langsung oleh aparat.
Ia membangun komunikasi dua arah: dengan TNI, camat, lurah, kepala desa, hingga tokoh masyarakat. Polisi tidak menunggu laporan, tapi hadir lebih dulu.
Pendekatannya merambah generasi muda. Program Binrohtal (Bina Rohani) menyentuh sekolah-sekolah; apel bersama pelajar, sosialisasi bahaya narkoba, pergaulan bebas, dan kekerasan. Bahkan, pelajar yang berulang tahun diberi hadiah helm sebuah pesan sederhana tentang keselamatan dan perhatian.
Inovasi lain lahir di lapangan olahraga. Event yang dulu bernama Kapolres Cup diubah menjadi Bhabinkamtibmas Cup. Antusiasme warga melonjak. Hadiah dikumpulkan secara swadaya patungan masyarakat. Polisi dan warga benar-benar berdiri sejajar.
Tantangan terberat datang di awal masa jabatannya yakni. Kasus pencurian ternak (curnak) meroket. Demo pun muncul, “Copot Kapolsek jika tak mampu ungkap kasus!” Namun tekanan itu dijawab dengan kerja nyata. Bersama kepala desa dan warga, Iptu Rudi mengungkap fakta pahit, pencurian sapi berkaitan erat dengan jaringan narkoba. Sapi-sapi warga ditukar dengan sabu. Kasus terungkap, kepercayaan pun tumbuh.
Bahkan dalam persoalan sensitif sekalipun, keberanian diuji. Saat sebuah SD disegel pemilik lahan hingga murid tak bisa belajar, ia pasang badan. Tindakan tegas diambil. Sekolah dibuka. Anak-anak kembali belajar.
Pesan yang ia pegang sederhana namun mendalam,
“Polisi adalah pelayan, bukan untuk dilayani.”
Rutin patroli desa, respons cepat, kehadiran tanpa sekat itulah bahasa pelayanan yang ia bangun. Polsek dibuka untuk siapa saja, kapan saja, tanpa batas.
Kegiatan sosialisasi ini turut dihadiri perwakilan Polres Palopo, Wakapolres Palopo Kompol Morens Dannari, S.Sos., M.Si, sebagai penegasan dukungan institusional terhadap wajah Polri yang humanis.
Di Aula Mapolres Palopo hari itu, peserta tak hanya mendengar materi. Mereka pulang membawa cerita. Tentang seorang Kapolsek yang rela kehilangan ruangnya, demi memberi ruang bagi masyarakat. Tentang Polri yang tidak ingin ditakuti, tapi dipercaya.
Dan tentang keyakinan bahwa keamanan sejati lahir dari empati.

Tinggalkan Balasan