PERJUANGAN ANAK YATIM DARI SULSEL KALAHKAN SULITNYA HIDUP, KINI LULUS JADI POLISI

zibirosdmsulsel.com – Sempat merasa tidak percaya diri bahwa ia mampu, namun berkat dukungan dan doa sang ibu dan berkat Allah Swt, pemuda asal galesong kabupaten takalar Sulawesi selatan ini kini lulus jadi anggota Polri.
Setelah beberapa bulan yang lalu melaksanakan tes penerimaan polri di Polda Sulsel, Hikmawansa atau yang sering di sapa wawan itu kini mengikuti Pendidikan di SPN Polda Sulsel bertempat di Jl Urip Sumoharja, Kota Makassar.
Prinsip BETAH (Bersih, Transparan, Akuntabel dan Humanis) masih tetap menjadi landasan bagi penerimaan Polri di Polda Sulsel, Selain prinsip betah Biro SDM Polda Sulsel mempedomani Clear And Clear, bebas Calo dan bebas KKB.
Tentu tidak mudah bagi wawan untuk dapat lolos menjadi anggota Polri. Ada beribu tantangan serta rintanganyang harus ia lalui. Mulai dari mendaftar, urus berkas, melewati beberapa tahapan seleksi hingga dinyatakan lolos dan mengikuti Pendidikan selama 5 bulan lamanya.
Wawan adalah anak bungsu dari tiga bersaudara dari pasangan Nawir Dg Nai dan Juliati.
Orang tuanya hanya petani padi yang hidup sederhana di kecamatan galesong itu.
Di tengah kesedarhanaan itu, wawan dibentuk untuk hidup gigih dan tekun
Terlebih lagi sang ayah Nawir Dg Nai telah meninggal dunia sejak wawan masih menduduki kelas 3 SD.
Diusianya yang terhitung sangat muda itu harus di hadapkan dengan kenyataan pahit, ayah yang menjadi idola hidupnya telah pergi untuk selama-lamanya.
Kepergian sang ayah itu, pun kian membuatnya sedih saat pertama kali menginjakkan kaki di SPN Batua.
Di saat siswa lain diantar sang ayah, Wawan harus tegar masuk SPN tanpa sang ayah.
“Saat itu, saya menangis karena (siswa) yang lain diantar sama bapaknya waktu pertama masuk di sini (SPN), sementara saya hanya ditemani kakak,” ucap Wawan ditemui saat selah latihan di SPN Batua, Senin (28/5/2023) pagi.
Sepeninggal sang ayah, Wawan tumbuh menjadi remaja harus membantu sang ibu yang saat itu menyambung hidup dengan berjualan kue-kue tradisional di takalar.
Hal itu dilakukan demi menopang kebutuhan keluarga.
Terlebih disaat yang sama, kedua kakak Wawan, Nur Umriani dan Nur Hikmah Nawir sedang kuliah.
“Jadi saat itu, setelah bapak saya meninggal, ibu saya jualan kue untuk kebutuhan keluarga, saya juga ikut bantu-bantu jualan,” ucapnya.
Saat menginjak bangku sekolah menengah atas (SMA), dua kakak Wawan yang sudah bergelar sarjana diterima menjadi guru honorer.
Kebetuhan keluarga pun banyak dibantu oleh pendapatan dari sang kakak.
Duduk di bangku kelas dua SMA, Wawan yang bercita-cita sejak kecil menjadi polisi, pun mulai menabung.
Sepulang sekolah, Wawan jadi buruh angkut bibit jagung di salah satu gudang yang juga masih milik kerabatnya.
Setiap kali menjadi buruh angkut, ia mendapatkan upah Rp 50 ribu.
“Sampai sekarang masih ada itu celenganku, dari toples wafer. Pulang angkat jagung biasa dapat Rp 50 ribu, terus saya tabung mi di celenganku” ujar Wawan.
Hasil tabungan dari celengan toples wafer itu, pun dibuka Wawan saat mendaftar sebagai calon Anggota Polri. Hasil tabungannya itu digunakan demi biaya operasional saat mengurus berkas pendaftaran.
Begitu juga untuk biaya transportasi dari rumahnya ke kantor Polres Takalar hingga Polda Sulsel yang cukup lumayan jauh.
“Alhamdulillah pas saya buka waktu mau mendaftar ada Rp 2 juta lebih isinya, itumi yang saya pakai untuk urus-urus berkas,” ucapnya.
Di sela pendidikan, Wawan tak kuasa menahan tangis takkala mendengar sang ibu terbaring sakit di rumah. Beruntung, setelah tiga hari sang ibu terbaring sakit dengan selang infus di tangan, kondisi Juliati kembali membaik.
“Kemarin sempatka sedih, karena dapatka kabar mamakku di kampung sakit dan diinfus tiga hari. Alhamdulillah sekarang sudah baikan,” sebutnya.
Di sela pendidikan itu, Wawan diperbolehkan menjenguk kondisi sang ibu di kampung halamannya. Tentu dengan pendampingan dari pengasuh atau pelatih dari SPN Batua.
Sontak sang ibu, Juliati tak kuasa menahan tangis saat melihat putranya tiba di rumah dengan berseragam siswa SPN Batua.
“Adako nak,” ucap Juliati dengan suara terisak sembari memeluk Wawan.
Kesaksian Juliati, putranya itu memang memang punya tekad kuat menjadi polisi.
Meski ditinggal sang ayah saat masih SD, tidak menyurutkan niat Wawan untuk menggapai cita-citanya.
“Itu hari sempat disuruh saja kuliah dulu, ambil jurusan olahraga, tapi dia (Wawan) bilang mauka jadi polisi,” kata Juliati.
Juliati kala itu, pun takkuasa menahan tangis saat melepas putranya dari rumah menuju SPN Batua setelah dinyatakan lolos dan melaksanakan Pendidikan pembentukan.
“Dalam hati saya, kodong (kasihan) anakku, tidak adami bapaknya dampingi,” ucap Juliati.
Sebelum beranjak kembali ke barak SPN Batua, Wawan menyempatkan diri berziarah ke makam ayahnya, Nawir Dg Nai.
Di depan pusara sang ayah, Wawan berurai air mata memanjat doa terbaik untuknya.
“Andaikan bapak saya masih ada, saya yakin dia bangga lihat saya seperti sekarang ini,” tuturnya.(*)

Tinggalkan Balasan